Mengenali Investasi yang (bisa) Bikin Bangkrut

Mengenali investasi yang bisa bikin bangkrut
Investasi

Mengenali Investasi yang (bisa) Bikin Bangkrut

Oleh : Ustadz Riza Zacharias

A’udzubillahi minasysyaithanirrajim Bismilahirrahmanirrahim

Read More

Investasi itu selalu punya pasangan serasinya: resiko. Mau bisnisnya nyata dan normal sekalipun, sama. Ada resiko bisa bikin kita bangkrut kehabisan modal bahkan harta.

Namun kali ini, saya tidak akan bahas jenis yang itu.
Yang ditulis ini adalah jenis yang memang secara “default” akan membuat siapapun yang masuk ke dalamnya, kemungkinan bangkrutnya besar.

Kenapa ada investasi yang bisa bikin bangkrut seperti itu?

  1. Sebab banyak yang belum paham ilmu dan kaidah investasi.
    Satu hal yang pasti benar, APAPUN bentuk wujudnya, investasi itu PASTI ada resiko gagalnya.
  2. Sebab boleh jadi kena penyakit hati “panjang angan-angan”, ingin kaya dengan cepat/ jalan pintas/ instan.
    Syetan masuk lewat pintu yang paling “tipis” pertahanannya: hal yang mubah/ boleh. Namun dibuat agar manusia jadi berlebihan dan terburu-buru.
  3. Sebab boleh jadi potensi sifat buruk yang ada di hati seseorang, bertemu pasangan serasinya: RAKUS.
  4. Seringkali juga sebab kepepet, atau frustasi sudah ada “beban” atau hutang atau masalah yang menekan/berat, dimana saat ada yang nawarin “solusi”, langsung “samber”.
  5. Sebab terlalu mudah percayaan yang salah tempat.
    Misal, karena yang menawarkan investasi adalah tokoh komunitasnya, maka anggota/ kelompoknya ngikut begitu saja tidak lagi kritis dan hati-hati.
  6. Sebab masih banyak yang ikut-ikutan investasi begitu saja, terbuai dan percaya saat melihat ada “influencer” atau “endorser” yang “meyakinkan”.

Kok Bisa Selalu Ada (lagi dan lagi) Investasi “Nakal” yang Sukses? Sebab ada POLA (Suksesnya):

1. Mereka Meyakinkan;

  • Produknya beneran “ada” dan legal aspeknya jelas.
  • Tawarannya menarik, dan menjadi “solusi” yang dibutuhkan. Calon dibuat merasa sangat rugi jika telat bergabung.
  • Hitungannya LOGIS, masuk kalkulator. Tentu dengan angka proyeksi yang sangat baik.
  • Prosesnya bisnisnya keliatan, ada dan nampak menarik, bahkan keren.
  • Pembawanya “meyakinkan”: terkadang dia masuk menjadi anggota komunitas tersebut, menjadi anggota baru yang baik dan potensial, atau memang malah dia orang lama/ dari komunitas or organisasi tersebut, yang membawa ‘tawaran bagus’ (dia digandeng pihak luar).
  • Kantornya ada dan “meyakinkan”.
  • Bicaranya, penampilannya meyakinkan. Tidak mesti tampil mewah. Bisa juga tampilannya sederhana, namun nampak “baik” dan “tulus”.

2. Mereka Pakai Influencer/ Endorser Tokoh

  • Biasanya ada tokoh agama yang reputasinya baik, yang dihormati dan didengar, tokoh pejabat, dll yang dijadikan endorsernya (direkrut atau dimanfaatkan menjadi endorser tanpa beliau-beliau juga memahami mendalam).
  • Atau memanfaatkan tokoh lainnya yang dikenali memiliki integritas dan popularitas: pengusaha, ketua/pimpinan komunitas/organisasi, dll.

3. Mereka meng-KLAIM (dalam tools marketingnya);

  • Bentuknya bisa foto seseorang atau video “bukti” dukungan dari orang-orang besar/sukses.
  • Kalimat do’a, tulisan, kalimat dukungan, endorse (di klaim sebagai bentuk dukungan).
  • Bentuk yang sering dibawa: “Beliau saja mendukung …bla bla bla..”

4. Mereka Sabar Dalam Prosesnya;

  • Mereka memastikan aman dan baik (terutama di tahun-tahun awal).
  • Seringkali, bisa di buktikan hasil hebatnya dengan cepat, terutama di 1-2 tahun pertama (banyak testimoni hasil dengan perubahan dirinya sendiri yang ‘cepat sukses/kaya’).
  • Jikapun mulai ada masalah, tidak langsung mandeg.
    Biasanya bahasa yang dipakai, seperti; “sedang ada kendala, inSyaAllah dalam proses diatasi”.
    Jika berlanjut, bahasanya menjadi; “sedang kena ‘musibah’, mesti banyak introspeksi, kudu bersabar, ini ujian, dst.
    Plus pakai dalil bahwa pasti ada hikmah dariNya.”
    (Hal tersebut terjadi biasanya saat bisnis tersebut sudah berjalan di tahun kesekian (bisa tahun ke-2, ke-3, bahkan tahun ke-4).
    Kenapa nunggu lama? Akumulasi hasil investasi yang dibawa lari, jumlahnya sudah amat sangat besar.
    Namanya musibah, mayoritas “anggota” akan memaklumi.
    Sebagian saja yang (biasanya) menuntut. Apalagi biasanya si “pimpinan/tokoh”nya juga korban (sebab ada pihak lain yang memang memanfaatkannya).

5. Kemasannya, Blue Print Program, Packagingnya Indah;

  • Orang-orangnya sangat santun, ramah, penyabar, taat.
  • Dermawan, perhatian.
  • Tujuannya besar, mulia dan memuliakan, mengangkat martabat masyarakat, berjuang untuk ekonomi ummat dan bangsa, dll.

Memangnya semua hal di atas nyata adanya, Kang?

Izin Allah, Alhamdulillah saya pribadi berbisnis sejak awal hingga saat ini, menginjak 24 tahun. Saya mengalami kehilangan satu perusahaan akibat eksekutifnya terbuai model investasi sebagaimana ciri-ciri di atas. Ditawari berbagai jenis bisnis dengan model-model di atas.
Tipikal.
Buanyaaak bentuknya.
Teman saya kehilangan berpuluh milyar.
Teman saya yang lain kehilangan rumah dan income tetapnya.
Jika ditotal sepanjang yang saya tahu saja, sudah ada puluhan “baju” dan “tema” investasi, yang semuanya selalu mengatakan saat muncul, “yang ini mah beda, inimah bener”, melalui beraneka ragam komunitas/organisasi.
Jika ditotal kerugian “uang masyarakat” yang menguap di berbagai investasi di atas, sudah masuk trilyunan.

Korbannya rata-rata masyarakat ekonomi menengah ke bawah (bukan orang-orang superkaya yang kena) dan pengusaha UMKM. Atau pegawai menengah-bawah. Meski beberapa ada juga yang sampai level direksi dan pimpinan.
 

Terus, cara bedainnya biar nggak salah gimana?

Miliki Anti Virusnya:

  1. Taqwa – do’a minta petunjuk, istikharah saat ditawari.
  2. Iqro! Be smart!
    Belajar tentang dunia investasi dan pelajari dengan baik.
  3. Ask somebody.
    Tanya banyak guru dan sahabat yang kita percayai.
  4. Pindahkan “dunia” ke genggaman, jangan di hati, agar terhindar dari ambil keputusan tanpa proses yang tepat.
  5. Jangan memutuskan saat “sangat tertarik”.
    Endapkan dahulu.
    Cukupkan informasinya terlebih dahulu, jalani proses due diligence-nya.
  6. Waspada selalu pada penawaran yang “too good to be true” (alert nyala).
    Jadilah paranoid yang positif di urusan ini.

Trus kalau pengen investasi, ikhtiar agar dapat yang aman kemana?

(Sepertinya saya pernah nulis yang ini. Kalau belum, next inSyaAllah nulis tentang ini).

Wallahu a’lam
Wal afwu,

Investasi EMAS?

Definisi investasi

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia:
“investasi” merupakan penanaman uang atau modal pada suatu perusahaan atau proyek untuk tujuan memperoleh keuntungan. Secara umum investasi dapat diartikan sebagai meluangkan/ memanfaatkan waktu, uang atau tenaga demi keuntungan/ manfaat pada masa datang.

Bahasa gampangnya, investasi itu mewakili karakter: berputar/dapat diputarkan, produktif. Bisa langsung jangka pendek, bisa jangka menengah-panjang.

Literasi Siroh

Saya cari literasi berbisnisnya Rasul dan para sahabat, belum berhasil menemukan bahwa emas adalah investasi. Jika teman-teman dan guru-guru disini ada yang bisa bantu infokan literasi tersebut, boleh bantu yaa.

Fakta bahwa emas di zaman Nabi ﷺ digunakan sebagai alat pembayaran, jelas banget: Dinar (emas) dan dirham (untuk nilai yang lebih kecil – perak).Namun emas sebagai investasi saya belum nemu. Padahal emas saat itu juga eksis. Di zaman tersebut banyak banget pake emas.

Bentuk investasi yang berhasil saya temukan di zaman Nabi dan sahabat, berupa:

Itu di Siroh yaa. Di Quran sama, saya cari tentang investasi emas ini masih nggak nemu.
(Mohon dibantu jika ada)

a. Bagaimana Investasi Menurut Kiyosaki?
(Prinsip ayah kaya, ajarannya Kiyosaki penulis buku Rich Dad Poor Dad)

~ note: saya bukan pengikut cara bisnis beliau yaa..🙂 ~

Prinsip Kiyosaki,

Ayah Miskin: Rumah saya adalah aset saya
Ayah Kaya: Rumah saya adalah liabilitas/ kewajiban (perhatikan, rumah saja jika menjadi aset yang iddle, menurut Kiyosaki bukan investasi. Dia masih liabilitas. Padahal, logikanya ‘mirip’ dengan emas: tanah, property itu naik terus).

Ayah Miskin: Menabunglah
Ayah Kaya: Berinvestasilah (dalam bisnis, menjadi investor, dkk)

b. Bagaimana ajaran “investor dunia”, gurunya para investor, Warren Buffet:

Terkait emas, Buffet membahas dua kekurangan utama:
  • Kategori aset yang tidak produktif,
  • Emas dalam bentuk “emas simpanan”, tidak bisa di “kreasikan”.

Dengan kata lain, emas tidak akan pernah menghasilkan lebih banyak emas, atau apapun yang bernilai dalam hal ini.

Itu menurut mereka yaa.

Gampangnya gini: emas simpanan kita 10 ons saat 10 tahun kemudian tetap 10 ons. Tidak bertambah.

Islam, amat sangat mencegah jangan sampai ada “aset” iddle.
Aset itu ya aset, karakternya produktif.

Saking jangan iddle, contoh emas yang disimpan, jika mencapai nishab, setiap tahun WAJIB dikeluarkan zakatnya (ada “biaya” masuk liabilitas).

Ada pertanyaan;
Kan ada selisih harga yang tinggi?
20-30 tahun lalu emas harganya Rp 25 ribu per gram.
Sekarang Rp 850 ribu per gram.

Iya. Betul jika lihat “angka” rupiahnya saja.

Jawabannya sederhana:
20-30 tahunan lalu, UMK “hanya” Rp 170 ribuan.
Sekarang? Rp 3-5 jutaan.
Jadi, jangan melihat rupiahnya saja, sebab rupiah ini mata uang yang hobinya merosot terus.

(silakan perhatikan grafik yang saya lampirkan. Ada contoh negara lain, ada contoh Indonesia. Ada jangka panjang ada jangka pendek. Betapa, emas itu sendiri faktanya harganya sangat fluktuatif).

Bagaimana dengan Pendapat bahwa Emas adalah Investasi?

Ada orang-orang yang menyuarakan bahwa emas adalah investasi.
Terutama mereka yang bisnisnya jual beli emas sih.

Sebelum melangkah, BEDAKAN dahulu antara “emas” sebagai ‘pilihan investasi’ dengan ‘Bisnis Jual Beli Emas’.

Bisnis jual beli emasnya, itu bisnis. Perdagangan. Jual beli. Maka investasi di bisnis itu yaa kategorinya investasi bisnis. Bukan investasi emas.

Tapi nawarin setiap orang atau teman atau ibu rumah tangga untuk beli emas dengan rayuan/ lobi/ dalih bahwa itu adalah investasi, nanti dulu.

Poin yang saya harapkan adalah, transparan lah. Namanya juga nawarin investasi.

Sampaikanlah dengan jelas ke calon pembeli emas yang tertarik beli emas untuk investasi.
Apa untung-ruginya?
Apa peluang-resikonya?
Jadi saat sudah menyampaikan dan tetap dibeli, berarti pembeli sudah membeli dengan sadar dan paham.

Beritahu Selengkap Mungkin

Kenapa Nabi bisnisnya hebat banget?

Salah satu rahasia besarnya adalah:

Nabi terbuka menyampaikan hal yang “wajib” diketahui oleh calon buyernya. Bagusnya apa, kurangnya apa.
Detil.
Maka, semua yang bertransaksi dengan Nabi, puas!
Namanya bisnis, saya menduga wakil dari berbagai kalangan sangat mungkin pernah berinteraksi dengan Nabi.
Dan mereka, tidak ada satupun yang merasa rugi atau menyesal berbisnis dengan Nabi atau membeli sesuatu dari Nabi sholallahu ‘alaihi wasallam, sebab sudah TAHU PERSIS semua halnya.

Maknanya?
Boleh-boleh saja jualan emas.
Berdagang namanya.

Tapi jika nawarin investasi emas, sampaikan dengan jelas dan transparan semua hal yang terkait investasi emas tersebut (lihat contoh oret-oretan saya tentang pertimbangan logis membeli emas dan hitungan resikonya, terlampir).

~ (Meski saya tidak pernah mau membeli emas untuk investasi) ~

investasi emas

Lihat foto pertanyaan (wa chat) saya dengan salah satu kandidat pebisnis (investor) muslim yang shalih, saat saya tanya tentang emas.

Beli emas itu untuk hedging, menjaga stabilitas. Itu silakan saja. Syaratnya, tetap dalam keadaan sadar dan paham.Tempatnya yang kudu pilih-pilih.
Hati-hati. Kecuali jika belinya di Antam, atau emas Antam, yang sudah ada standar baku dan garansi terjamin.

Terakhir, pastikan kita tahu resikonya.

Gini, contoh inimah yaa…
jika ada orang yang “niat jahat”, agak mudah ngakalin agar jahatnya itu bisa berjalan mulus.

Mayoritas ummat kita nih polos.
Percayaan sama orang yang nampak baik, atau memang orang baik beneran (hanya orang baik ini ada yg manfaatin, ada yang ndompleng).

Banyak yang belum paham betul akan emas ini.
Misal, maksud emas 18K, 22K, 24K saja bisa jadi banyak yang belum paham.

Belum lagi istilah emas muda, emas tua.
Harga emas muda jauh lebih murah dari emas tua.
Beda pula (kualitas) emas indonesia dengan emas Saudi misalnya. Dll.

Kalau orang niat jahat, bisa saja dia ngemodal punya emas asli 1 kg, lantas dibawa ke lembaga resmi pengujian untuk dapatkan BUKTI sertifikat bahwa emasnya asli 24K misalnya.
Sertifikat itu yang lantas dibawa kemana-mana sebagai bukti keasliannya.

Tapi, siapa konsumen yang tahu dan bisa melihat sendiri bahwa yang dia produksi dalam pecahan gramatur kecil-kecil itu dari emas yang sama dengan yang sudah diuji?

Bagaimana jika di awal-awal memang dia jual yang 24K untuk raih kepercayaan masyarakat dan dapatkan testimoni, setelah itu jaminannya apa dan bagaimana memastikannya bahwa emas berikut-berikutnya masih dengan standar kualitas yang sama?

Na’udzubillah, semoga tidak ada yang sejahat itu.

Apakah kami membeli emas?
Ya. Kami membeli emas.
Setiap tahun bayar zakatnya, tentu wajib ditunaikan.
Apa tujuannya?
Sebagai hedging itu tadi, bukan sebagai investasi.
Disimpen dimana?
Rahasiaaaa 

Simpulan?
Kembali ke masing-masing, mau ambil sikap bagaimana.
Yang penting, jangan asal ikut.
Jangan asal mentang-mentang dikasih kata-kata “investasi”, lantas otomatis jadi indah banget.

Wallahu a’lam Wal afwu,

data pergerakan emas
data pergerakan emas
data pergerakan emas
data pergerakan emas

Disclaimer:
Tulisan saya ini utamanya mengingatkan diri sendiri, dan dengan niat untuk memberi informasi penyeimbang. Tidak ada kaitan dengan bisnis punya seseorang. Pun, ini opini pribadi, dan saya berlindung pada Allah ta’ala dari kesalahan yang menyesatkan.

Leave a Reply